Industri manufaktur merupakan bagian dari perekonomian yang berfokus pada penghasilan produk-produk untuk dikonsumsi melalui serangkaian langkah penyatuan komponen atau pembentukan barang tersebut secara lokal.
Rangkaian proses itu meliputi tahapan mulai dari pengolahan bahan mentah serta bahan pendukung sampai akhirnya tercipta produk jadi yang siap dipasarkan atau digunakan oleh konsumen.
Sektor manufacturing memiliki ragam jenis yang luas. Sebut saja beberapa contoh seperti industry yang menghasilkan aneka produk, mulai dari kuliner, pakaian, elektronik, otomotif, sampai perlengkapan kesehatan.
Barang-barang tersebut akan disebarluaskan dari skala grosir sampai eceran, dan pada akhirnya mencapai konsumen atau pemakai akhir.
Maka dari itu, pada tingkat makro, eksistensi perusahaan manufaktur tersebut sangat berarti sebab mampu menghasilkan banyak pekerjaan baru.
Negara dengan sektor manufaktur yang robust serta produk-produknya berhasil mendominasi pasaran internasional, dapat dikategorikan sebagai negara berkembang secara teknis.
Tercapai atau tidaknya target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto, sangat tergantung pada kinerja industri manufaktur dalam negeri secara keseluruhan.
Ironisnya, sektor perindustrian nasional kini seperti terhantam serangan bergiliran dari segala penjuru.
Depresiasi rupiah yang datang bersamaan dan saling berkelindan dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah seakan berkolaborasi untuk menekan industri manufaktur domestik.
Penurunan nilai rupiah yang berarti pelemahan nilai tukarnya dibandingkan dengan mata uang luar negeri, terutama dolar AS, tentu saja menyebabkan harga barang-barang impor menjadi lebih tinggi.
Sebenarnya, impor bahan baku untuk industri manufaktur tetap cukup signifikan. Ini disebabkan karena industri hulu serta industri di tengah dalam negeri belum dapat mencukupi permintaan dari sektor industri tersebut.
Kebijakan Amerika Serikat di bawah Donald Trump yang menerapkan bea masuk ekstravaganza telah memberikan dampak besar dan tidak menyenangkan bagi sektor manufaktur di Indonesia.
Betapa tidak, selama ini AS menjadi salah satu tujuan utama produk industri manufaktur Indonesia, yang mendatangkan surplus dalam neraca perdagangan Indonesia-AS.
Sayangnya, barang-barang buatan pabrik lokal kurang diminati di pasaran dalam negeri akibat banjirnya produk luar negeri.
Contoh yang sangat mudah ditemukan adalah pada industri tekstil lokal yang mengalami kerugian. Banyak perusahaan bangkrut sebagaimana yang dirasakan oleh Sritex di Solo, Jawa Tengah.
Produk tekstil lokal tidak mampu bersaing dengan pakaian second namun masih berkualitas baik yang masuk ke negara ini tanpa izin resmi.
Di sisi lain, ekspor produk-produk Indonesia mengalami kendala akibat besarnya tariff impor dari Amerika Serikat, sebagaimana sudah dibahas sebelumnya.
Maka pantas dikatakan bahwa sektor manufaktur lokal seperti mendapat pukulan bergantian dari segala arah, baik oleh faktor internal maupun eksternal.
Sebelumnya, ketika terjadi peningkatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) serta UMP, sektor manufaktur lokal memutuskan untuk mengecilkan skala produksi mereka.
Walaupun kenaikan tarif PPN hanya berlaku untuk barang-barang mewah saja, hal ini sudah cukup menciptakan suasana yang tidak begitu mendukung.
Sebagai respons terhadap kekhawatiran akan ketidakmampuan produknya bersaing secara dalam negeri melawan barang impor, industri perusahaan ini memutuskan untuk menurunkan tingkat produksinya.
Terlebih lagi kini, ketika berbagai negara menargetkan Indonesia sebagai tujuan baru, mengingat jalur menuju Amerika telah tersendat akibat kebijakan Trump.
Apakah akan ada lonjakan PHK masal dalam sektor industri manufaktur di Indonesia? Semoga situasi tersebut tidak terjadi.
Sebab, jika hal tersebut terwujud, maka akan berdampak sangat besar dan dapat memperparah situasi ekonomi di Indonesia.
Bukan cuma para pekerja yang kehilangan pekerjaannya saja yang terdampak. Namun, pemilik bisnis juga mengalami kesulitan berat akibat penjualan mereka menurun drastis disebabkan oleh pengurangan konsumsi masyarakat, sehingga menyebabkan kerugian bagi bisnis tersebut.
Pemerintah dipaksa untuk dapat menangani apabila terdapat situasi yang tak diinginkan itu.
Selain menyediakan bantuan sosial serta beragam subsidi, pemerintah harus merancang regulasi yang menguntungkan sektor manufaktur.
Post a Comment for "Industri dalam negeri terus dihantam krisis ganda"